“ Bintang di Atas Alhambra, Mimpi yang Menjadi Kenyataan Karena Adanya Kesungguhan”
Identitas
novel
Judul : Bintang di Atas Alhambra
Penulis : Ang Zen ( nama pena dari Zezen
Zaenal Mutaqin)
Penyunting : Mahfud Ikhwan
Penerbit : Bunyan (PT. Bentang Pustaka)
Kota terbit : Yogyakarta
Tahun terbit : 2013
Cetakan : Cetakan pertama
Deskripsi fisik : 358 hal, 19 cm
ISBN : 978-602-7888-86-9
Jenis novel : Fiksi
Sinopsis
novel
Sekilas
dilihat dari judulnya “ Bintang di Atas Alhambra” kebanyakan dari kita pasti
akan membayangkan bahwa novel ini tidak akan jauh beda dari novel “99 Cahaya di
Langit Eropa”, karena ada sebagian setting yang memang hampir sama yaitu
Spanyol. Namun, setelah di baca dengan seksama, novel ini memiliki cirri khas tersendiri. Secara garis besar novel ini bercerita
tentang arti penting sebuah mimpi karena “
Masa depan adalah mimpi yang dimenangkan” , Iip Muhammad Syarip , merupakan karakter
utama yang merupakan anak ingusan yang berasal dari keluarga keturunan kiai.
Sang ayah menginginkan Iip menjadi seorang kiai dan mendirikan sebuah pondok
pesantren di kampungnya yang merupakan
cita – cita sang kakek. Selepas lulus dari sekolah dasar Iip dikirim Orang
tuanya ke salah satu pesantren Salafiyah ( tradisional) di Karangtawang, namun
disamping nyantri Iip tetap melanjutkan sekolah formalnya melalui sebuah MTs –
setingkat SMP. Nah, dari sini dapat dilihat bahwa alur cerita ini hampir sama
dengan novel “ negeri 5 menara” , namun perbedaannya karakter Iip di sini
nyantri disebuah pesantren tradisional yang identik dengan kitab kuningnya ,
para santri biasanya memakai sarung dan kopyah , di sebagian besar pesantren
salaf santri memasak makanan sendiri dan kemudian makan bersama dalam sebuah
nampan atau daun pisang. Sedangkan dalam novel “ negeri 5 menara “ karakter
Alif nyantri di pesantren modern “ Madani” ( Gontor) yang tidak hanya
mempelajari kitab kuning tapi juga kitab putih seperti pelajaran di sekolah umum
lainnya, paa santri tidak lagi mhanya memakia sarung dan kopyah tapi juga jaz,
celana panjang dll. Bedanya lagi, Iip nyantri dengan kerelaan hatinya sedangkan
Alif nyantri dengan sedikit keterpaksaan hati.
Dari pesantren tradisional inilah Iip mulai merajut dan memupuk setiap
mimpi – mimpinya, suatu malam dilantai 2 asrama pesantren Iip duduk sendiri
merenung tentang kata – kata motivasi kakak kelasnya yang terlebih dahulu
sukses ( bab Jimat sang alumnus) “ Syarat sebuah kesuksesan hanya satu : kita
harus punya mimpi. Tak perlu takut bermimpi setinggi langit. Lihat bintang
terang diatas. Tataplah bintang – bintang dan bisikkan mimpi kalian !”.
Kakak kelasnya itu akhirnya memotivasinya untuk benar – benar mewujudkan
mimpinya, pada bintang salib selatan atau Crux,
Iip menyebutnya bintang layang – layang , pada bintang itulah Iip kecil
membisikkan mimpinya.
Selepas
lulus MTs, Iip melanjutkan nyantri di
sebuah pesantren di daerah Cidewa, oleh karena itu Iip menyebut pimpinan
pesantren ini dengan sebutan “ Kiai cidewa”. Kiai Cidewa merupakan sosok yang
moderat , beliau ini tidak hanya fasih berbahasa arab, tapi juga bahasa inggris
dll. Berikut beberapa quotes dari sang
kiai :
“ Kita harus cinta segala ilmu.
Hiasilah kecintaan kepada ilmu itu dengan budi suci, dengan moral dan kesalehan
agama, dengan akhlak yang mulia.”
“ Knowledge is power but character
is more !”
“ Jangan kalian alergi buku ,
apalagi alergi ilmu atau alergi pemikiran. Semua harus dibaca dan dipelajari.”
“ Mengkritik tanpa sebuah pemahaman
yang benar hanya akan berujung pada usaha sia – sia. Karena itu , jangan sekali
– sekali alergi pada suatu disiplin ilmu atau pemikiran sekalipun pemikiran itu
tidak kita sepakati.”
“ Jadilah muslim moderat, mukmin democrat, muhsin diplomat “
Bertahun
– tahun kemudian , setelah Iip
menggantungkan mimpi – mimpinya pada bintang layang – layang, kini akhirnya dia
dapat mewujudkan salah satu mimpinya kuliah di luar negeri tepatnya Australia,
sebenarnya Australia bukanlah merupakan tempat yang diimpikannya, namun “ Mimpi
selalu seperti itu. Ia tidak sepenuhnya terwujud atau malah perlahan terwujud
melalui beragam jalan”. Iip kuliah
di bidang hukum internasional, fakultas Hukum University of Melbourne. Selama
kuliah di sana dia membawa serta istrinya “ Mira Asmarandana” istrinya
merupakan sosok yang sabar, tidak cemburuan dan keibuan. Kelak anak pertamanya lahir disana juga dengan nama
“Amartya” nama ini diambil dari seorang ekonom India “ Amartya Kumar Sen” yang
berkarir di Inggri dan Amerika. Di University of Melbourne, dia berjumpa dengan
“ Lisa Gomez” gadis Santiago, Chile berdarah Spanyol ( Hispanic) , Lisa
merupakan sesosok gadis yang Cantik dan Cerdas, dia telah banyak berkelana
seperti ke Moskwa ( Rusia) dan Taiwan yang ternyata ini dilakukannya selepas ia
putus hubungan dengan pacarnya di Chile, ia berada dalam jurusan yang sama
dengan Iip bedanya Iip melanjutkan sekolah ke Australia atas biaya pemerintah
Australia ( Ausaid) sedangkan Lisa kuliah di Australia berkat biaya pemerintah
Chile. Persahabatan mereka terus terjalin dengan sangat baik, meskipun berbeda
agama , budaya dan latar belakang, mereka dapat menjalin sebuah pershabatan
yang solid, disini penulis secara tidak langsung mengamanatkan bahwa “ Perbedaan itu sungguh indah dan bukan
merupakan sebuah halangan untuk saling bekerja sama”. Kedua sosok ini
mempunyai ketertarikan yang sangat besar pada Spanyol, Iip begitu tertarik
dengan Spanyol lantaran sejak dari pesantren kiai cidewa selalu merujuk pada
Spanyol sebagai salah satu peradaban maju islam, kota – kota seperti Granada,
Sevilla merupakan salah dua dari sekian banyak peninggalannya. Sedangkan
Lisa begitu tertarik dengan Spanyol
karena nenek moyangya berasal dari sana tepatnya Granada. Suatu ketika mereka
akhirnya dapat mewujudkan mimpi mereka berziarah ke Spanyol. Berkat beasiswa sekolah musim panas bagi
aktivis muda Indonesia dari Belanda Iip mendapatkan kesempatan kuliah di
University of Utrech dan University of Leiden selama 1 semester, di tengah keputusasaan Iip untuk bisa berkeliling
Eropa, akhirnya dia mendapat tentang
beasiswa itu dari temannya, satu quotes yang paling saya ingat adalah “ Yakinlah setiap Usaha akan berbuah hasil.”
Lisa juga mendapat kesempatan yang sama untuk bisa kuliah di Eropa pada musim
panas itu, namun kampus pilihannya berbeda dengan Iip.
Berpetualang
ke Spanyol, merupakan bagian yang paling menarik dan seru dari novel ini, di
akhir masa studi Iip dan Lisa, mereka ingin mewujudkan mimpi yang telah mereka
janjikan dulu. Kota – kota yang mereka kunjungi diantaranya Sevilla, Granada
dan Cordoba, sebenarnya masih ada satu kota lagi yang masuk daftar kunjungan
atas saran Lisa yaitu Santiago de Compostela, namun tidak jadi. Granada
merupakn salah satu kota peninggalan peradaban umat muslim di spanyol disini berdiri
megah Istana Alhambra yang sering di sebut juga dengan “ Istana Merah’’,
sedangkan Santiago de Compostela menurut penuturan Lisa merupakan kota tempat
peziarahan umat Kristen pada abad pertengahan, kota ini konon tempat
dimakamkannya Saint james ( santo yakobus) yang merupakan murid kedua belas
dari Yesus Kristus.
Yang
menjadi pertanyaan saya sampai sekarang adalah kenapa harus cewek temen
perjalanannya Ang..?? nah mungkin ini salah satu keunikan penulis yang tidak
ingin ceritanya monoton dan bumbu – bumbu seperti ini sangat cocok untuk membuat cerita lebih komunikatif dan
ekspresif.
Pemakain
Bahasa
Dari
segi pemakaian bahasa Ang Zen cenderung menggunakan bahasa yang cukup mudah
dimengerti dan syarat dengan kata – kata ilmiah hampir mirip dengan Andrea
Hirata seperti kutipan berikut ini,
“Hidup adalah kesunyian nasib masing – masing.
Hidup adalah kesetiaan pada proses.
Manusia tidak boleh ditaklukan oleh
nasib !
Usaha dan keuletan bisa mengalahkan
jalan Tuhan !”
“Manusia adalah mahkluk yang esistensinya ada
mendahului esensinya, sedangkan esensi benda ada sebelum menjelma dalam
kenyataan.”
“
Ukuran beradab atau tidaknya suatu bangsa dapat dilihat dari tegak atau
tidaknya hukum”
“
Who had a beauty too much more than Human ? Oh, where are the snows of
yesteryear !” ( Francois Villon)
“
Dieu et mon droit , Honi soit qui mat y pense._-> Tuhan dan Hakku, Mereka
yang berpikir jahat akan dipermalukan.”
“Bellum
omnium, contro omnes> perang semua lawan semua.”
“Panta
rhei, everything flows” (Heraklitos)
Latar
belakang pendidikan hukum nampaknya sangat mempengaruhi gaya penulisannya.
Alur atau plot dalam
novel ini maju – mundur atau Flashback, dalam permulaan novel ini penulis
menceritakan tentang pesan seorang tua yang bernama Paulo pada Iip untuk
menceritakan pada orang laintentang bagaimana impian Iip menjadi kenyataan,
yang kelak di akhir novel ini pesan dari Paulo tersebut sebenarnya pesan dai
Lisa berikut bagian kutipan surat yang diserahkan Lisa pada Iip atas nama Paulo
:
“
Harta karun kehidupan berada dibawah reruntuhan rumah tua tempat sang
penggembala memulai petualangan, bukan dibalik piramida. Dan , mimpi terindahmu
tersimpan dibalik bebatuan sungai kehidupan ditanah kelahiranmu.”
Dalam permulaan novel ini, penulis memaparkan
latar belakang dan motivasi dari penulisan novelnya yang tak lain di sarankan
oleh Sahabatnya. Dan gaya penulisan seperti merupakan cirri khas penulis yang
tidak dimiliki penulis – penulis lain
Kelebihan
dan Kekurangan Novel
Kelebihan novel ini
sangatlah banyak seperti yang di uraikan diatas mulai dari gaya penulisan yang
ilmiah, alur flashback yang mengantarkan pembaca untuk lebih jeli. Selain itu
dari novel ini kita bisa belajar banyak sejarah islam, tentang betapa majunya
peradaban islam dan belajar banyak sejarah lainnya seperti asal usul nama kota
Santiago dll. Kekurangan novel ini terletak pada penulisan daftar isi yang
tidak disertai halaman, mungkin juga maksud penulis agar pembaca benar – benar
membaca dari awal karena setiap kisah saling berhubungan.
Pesan
Moral
Ø Bermimpilah
karena mimpi itu gratis, akan ada jalan jika sungguh – sungguh menginginkan
sesuatu. Bermimpilah dan wujudkan mimpi itu siapapun anda, apapun latar
belakang pendidikan anda, apakah dari sekolah yang biasa – biasa saja, anda
berhak untuk menjadi oarng sukses.
Ø Perbedaan
itu penting, jangan jadikan perbedaan sebagai penghalang, dan jangan meremehkan
arti penting seorang sahabat.
Ø Jangan
sekali – kali melupakan sejarah
Ø Belajarlah
segala disiplin ilmu baik ilmu umum maupun ilmu agama
Kesimpulan
Novel ini sangat cocok dibaca untuk
semua kalangan, terutama untuk mahasiswa yang berlatar pendidikan pesantren
atau madrasah yang ingin mewujudkan mimpi – mimpinya dalan kehidupan nyata dan
tentunya buat scholarsip hunter. Serta untuk para pecinta sejarah (islam
khususnya) very recommended novel.
Inspiratif !
Note
:
Beberapa quote’s dari novel “Bintang di Atas Alhambra”
Ø “ Sekali bermimpi bersiap – siaolah
untuk hal – hal mengejutkan. Kadang mimpi itu menjelma lebih cepat dari dugaan
kita.”
Ø “ Cintailah segala ilmu pengetahuan
, tidak membeda – bedakan ilmu umu atau ilmu agama. Semua ilmu itu datangnya
dari Alloh SWT. Tujuannya sama , yakni mengetahui tanda – tanda kebesaran Alloh
SWT, agar manusia semakin beriman. Ilmu pengetahuan berusaha mengetahui tanda –
tanda alam dan kebesaran Alloh SWT dengan menafsirkan alam atau ayat kauniyah.
Sementara iman atau agama berusha mengungkap kebesaran Alloh SWT dengan
membedah ayat – ayat yang tersurat , ayat qauliyah, ayat – ayat yang dilafalkan
oleh para Nabi.”
Ø “Selalu ada akhir yang kadan getir
pada setiap petualangan yang berakhir. Kenangan selalu indah karena ada
perpisahan. Kerinduan selalu menyelinap karena pernah ada kebersamaan.”
Ø “ Selalu harus ada pulang ketika
kita dahulu pergi”
Ø “ Setiap saat adalah waktu untuk
pembelajaran dan kemajuan. Hari ini selalu lebih baik dari hari kemarin. Meski
dengan langkah kecil dan tertatih hidup harus terus maju.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar